Sejarah Ilmu Marketing Yang Harus Di Ketahui. Ya, dalam perkuliahan, pemaparan sejarah marketing tersebut biasanya steril dari, misalnya, kritik Marx terhadap fetisisme atas komoditi sebagai ekses kapitalisme, atau kritik dari Thorstein Veblen tentang kelas waktu senggang.

Tradisi kritik semacam itu bahkan terus berlanjut hingga abad 20, misalnya seperti yang dipelopori oleh Mazhab Frankfurt, kemudian cultural studies Inggris, hingga pemikiran kritikus konsumerisme kontemporer, misalnya Bernard Stiegler.

Mereka umumnya mengkritik ekonomi teoretis dan kondisi kebudayaan di mana permintaan konsumen dimanipulasi dengan cara sengaja dan terkoordinasi, dengan skala sangat besar, melalui berbagai teknik pemasaran-massa, untuk meningkatkan penjualan.

Sayangnya, dalam perkuliahan desain dan marketing jarang sekali kritik-kritik dari ranah tersebut disampaikan. Jika pun ada kritik, maka itu lebih berupa kritik antar pemikiran desain atau marketing yang satu dengan pemikiran lainnya, bukan dengan wawasan kritis dari bidang keilmuan lain ihwal ekses konsumerisme yang ditumbuhkannya.

Kesterilan pun terasa dalam paparan tentang perbedaan antara selling dan marketing. Selling berorientasi terciptanya penjualan saat ini, sedangkan marketing berorientasi terciptanya komunikasi dengan konsumen dan menghasilkan hubungan jangka panjang yang harmonis.

Dalam praktiknya saat ini, iklan memegang peranan penting untuk membawa komunikasi pemasaran kepada konsumen. Namun, tidak dapat dipungkiri, banyak taktik iklan diturunkan dari kajian sosial budaya yang justru digunakan untuk mengeksploitasi hasrat konsumtif.

Kini, marketer dituntut untuk memahami psikografis dari target pasar, tapi dilihat dari perspektif kritis hal itu hanyalah semacam ‘peta hasrat’ manusia. Kenyataannya, di dunia pemasaran berlaku prinsip seperti “there’s only perception, no reality”, “doing business without marketing communication is like winking at a girl in the dark, you know what you do but nobody else does”, dan “real marketing battle happens in the mind of customers, not on the shelves in supermakets”.

Bahkan urusan melekatkan produk/perusahaan/sesuatu yang ingin diiklankan dengan persepsi yang ingin dibangun semakin canggih, sehingga ada istilah enviro-coal, green-mining, atau mengangkat tema tertentu yang sedang hangat dan mencoba membangun konotasi tentang kepedulian, kekiritisan, keintelekan dari pemakai produk dengan tema yang dikomentari.

Persepsi memang merupakan hal kunci dalam marketing. Bahkan di kalangan marketing ada ungkapan sinis untuk bagian rekayasa dan produksi: “Tidak perlu kamu membuat produk sehebat dan sebagus apa pun, kalau ternyata konsumen tidak mempersepsi seperti itu.”

Hal lain mengenai persepsi adalah harga. Untuk produk-produk kosmetik dan sejenisnya yang dipakai langsung ke tubuh, harga dipersepsikan berbanding lurus dengan kualitas. Karenanya, produk kosmetik yang dijual dengan harga murah malah tidak laku, sebab dianggap murahan dan diragukan kualitasnya. Sementara produk yang dijual dengan harga yang lebih tinggi dianggap lebih berkualitas dan lebih aman untuk membelinya.

Memang, marketing bukan sekadar iklan, melainkan seluruh proses komunikasi mulai dari pilihan desain sebuah produk, pertimbangan bahan baku yang dipakai, fitur-fitur yang diberikan dan dihilangkan, penentuan harga jual dan diskon, jalur distribusi yang dipilih, pilihan merek yang digunakan dan pesan yang dibawanya, hingga jingle khusus yang dirancang sehingga orang mengasosiasikan bunyi tertentu ke suatu merek.

Kategori: Alat industri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *